Baguslah, Mourinho Dipecat!

Ini kabar baik buat siapa saja yang tidak suka, dongkol dan marah pada Jose Mourinho. Pria Portugal yang congkak ini, telah dipecat  dari pekerjaannya, sebagai manager-coach Chelsea. 

Pihak manajemen Chelsea, klub sepakbola milik taipan minyak Rusia, Roman Abramovic itu, hanya memberikan pernyataan singkat. Istilah yang digunakan bukan pemecatan, tapi kesepakatan bersama (mutual consent). 

Gampang ditebak, dengan pernyataaan diplomatis seperti itu, manajemen Chelsea berusaha betul agar proses “pembuangan” Mourinho dari Stamford Bridge tidak menimbulkan gejolak. Terutama di kalangan pemainnya. Jangan sampai reaksi pro-kontra di antara mereka, membuat suasana kamar ganti memanas.

Apapun taruhannya, keutuhan dan kekompakan tim harus dijaga. Soalnya, Premiere League baru saja bergulir dan Chelsea melakukan start yang buruk. Selain itu,  para petugas PR di seputar  Abramovic pasti tahu betul, pers Inggris bisa membuat drama pemecatan yang mengejutkan ini jadi telenovela berbulan-bulan, asalkan ada celah sekecil apapun. 

Besar kemungkinan Mourinho dapat uang pesangon cukup besar,  makanya mau lengser secara sukarela. Selain itu, dia sendiri mungkin sudah suntuk memimpin para pemain yang terlalu besar kepala, macam John Terry, Frank Lampard, Sheva dan Didier Drogba. Mereka bukan hanya nyinyir pada Mourinho, tapi juga saling sirik. Perseteruan dengan Terry, itu salah satunya, yang memaksa hengkang pelatih paling ganteng sedunia ini.   

Apapun fakta dibalik sensasi ini , jelas Chelsea tidak inign memperpanjang perkara dengan Mourinho. Soalnya, biarpun tidak disukai dan bahkan dibenci oleh mayoritas penggemar bola sejagad, Mourinho adalah super hero bagi fans Chelsea. Lelaki metroseksual inilah yang membuat impian lama mereka jadi kenyataan,  memenangkan gelar juara liga paling bergengsi di sana : English Premiere League (EPL),  setelah mengidamkannya setengah abad lebih.

Ya, pada tahun pertamanya melatih di Chelsea, mantan guru ini  langsung mengukir prestasi spektakuler. Chelsea juara EPL pada tahun 2005 itu, disusul suskses serupa tahun berikutnya. Luar biasa! Sebagai bandingan, Alex Ferguson butuh empat tahun untuk mempersembahkan gelar juara Liga Inggris bagi fans Manchester United (MU). Hebatnya lagi, Mourinho meraih sukses itu tatkala Ferguson dan timnya sedang di puncak prestasi.

Memang, harus diakui, untuk urusan membangun tim yang kompak, dan memotivasi para pemain bertarung all-out, Mourinho jagonya. Ibarat seorang jenderal, dia mampu menyuntikkan semangat “hancurkan musuh” kepada pemainnya. Kalau disamakan dengan dirigen, dia sanggup membangun orkestra yang kompak dan harmonis, dengan sekumpulan pemusik berkemampuan sedang-sedang saja.

Hal itu sudah dibuktikan Mourinho ketika melatih FC Porto. Berjaya di Liga Champion, dengan para pemain yang terbilang kelas dua di Eropa. Ini sekaligus menyangkal tuduhan, seolah-olah suksesnya di Chelsea hanya lantaran Abramovic royal mengucurkan dana, buat memborong pemain-pemain top di muka bumi.

Justru faktor fulus itulah, atau dengan kata lain karena kesombongan sang kapitalis Abramovic, maka prestasi Chelsea mulai merosot. Kegagalan Chelsea merebut gelar EPL musim lalu, diserobot MU, lantaran si kapitalis mulai ikut campuran urusan teknis. Lantaran kesengsem sama Andrei Shevchenko, konglomerat Rusia itu langsung mentransfernya dari AC Milan, biarpun Mourinho bilang “Nyet” alias TIDAK. Masih diteruskan lagi dengan membeli Michael Ballack, yang justru menimbulkan ketidakharmonisan dalam tim.

Hampir selama satu tahun Mourinho mencoba bersabar, menghadapi ulah sang bos, yang menurut norma sepakbola di Inggris itu sama saja pelecehan terang-terangan. Di Inggris, seorang manager-coach seperti Ferguson adalah ibaran perdana menteri dalam sistem pemerintahan parlementer. Presiden atau pemilik klub hanya punya kewenangan di tingkat rapat komisaris dan mewakili klub dalam kegiatan seremonial. Soal transfer pemain, sampai urusan sepele seperti memesan tiket pesawat ketika tim akan bertanding di kota lain, itu wewenang manager-coach.

Mengingat karakternya yang ultra independen dan merasa diri super, bisa dibayangkan betapa tersiksanya batin Mourinho sepanjang  tahun kemarin. Bebannya kian berat karena begitu kuatnya sikap tidak senang dan bahkan bermusuhan terhadapnya, karena kelakuannya sendiri. Dia dinilai terlalu arogan dan tidak jantan, sebab setiap timnya kalah dia pasti menyalahkan wasit dan meremehkan tim lawan. 

Satu lagi alasan orang-orang membencinya, karena Chelsea yang dipenuhi pemain bertalenta tinggi dan agresif justru diplot Mourinho bermain aman alias defensif. Setali tiga uang dengan Capello waktu menukangi Real Madrid. Tapi Capello cuma tidak disukai. Tak sampai dibenci. Karena dia sportif,  saat menang maupun kalah. Itu yang perlu dipelajari Mourinho : sportmanship!   

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.